Prospek jadi konsumen - diannugroho.com

Strategi Ampuh Bikin Prospek Jadi Konsumen

Jika Anda adalah seorang pemasar (marketer) maka penting sekali memahami cara meningkatkan kesadaran konsumen. Karena dengan memahami ini Anda tahu bagaimana menggiring prospek hingga akhirnya menjadi konsumen produk Anda.

Kesadaran konsumen atau customer awareness dapat mengubah seseorang yang awalnya tidak tahu tentang kehadiran brand atau produk Anda akhirnya dapat menjadi pembeli atau bahkan pecinta produk Anda.

Saya akan mulai dengan sebuah cerita.

Seorang bernama Lilis (anggap saja nama samaran) sedang menunggu giliran di sebuah salon.

Sambil menunggu giliran Lilis membuka smartphonenya dan membuka aplikasi media sosial.

Dia scroll… scroll… sebentar dia berhenti untuk memberi like dan komentar. Lalu scroll lagi. Tiba-tiba perhatiannya berhenti pada sebuah artikel yang linknya dibagikan oleh salah seorang temannya.

Judulnya cukup menarik buatnya “12 Tips Tetap Langsing dan Sehat Agar Selalu Disayang Pacar”.

Lilis punya postur yang tidak terlalu gemuk. Tapi menjadi tetap langsing adalah menjaga dan mempertahankan berat badan. Apalagi tetap langsing dan tetap sehat. Siapa yang tidak mau? Itu yang ada dalam pikiran Lilis.

Apalagi temannya menambahi dengan status “Artikel ini penting buat yang mau berat badannya nggak naik.”

“Aku perlu baca ini” kata Lilis dalam hati.

Tidak pikir panjang Lilis pun segera membuka dan membaca artikel tersebut.

Dan benar. Isinya sesuai dengan yang diharapkan oleh Lilis.

Lilis merasa bahwa artikel tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

Satu tips… dua tips… membuat Lilis tidak berhenti membaca. Dan akhirnya tidak terasa dia telah sampai pada paragraf terakhir.

Di akhir artikel terdapat penawaran sebuah produk yang akan membantunya untuk dapat menjaga berat badannya tanpa ribet.

Lilis penasaran tentang produk tersebut.

Akhirnya dia buka halaman penawaran tersebut.

Di halaman tersebut Lilis kembali diajak untuk menemui masalahnya, ketakutannya.

Tapi disebutkan juga solusinya. Sehingga dia lebih tenang.

Dia terus membaca halaman penawaran itu. Sebuah produk suplemen yang dapat membantu menjaga badannya untuk tetap ideal.

Produknya punya banyak manfaat. Lilis berpikir… produk ini tidak hanya akan membuatnya tetap tubuh ideal tapi juga kesehatannya pun terjaga. Ah itu sangat menguntungkan.

Sebuah penawaran yang menarik. Yang mungkin tidak akan dia dapatkan di lain kesempatan. Kapan lagi?

Harganya cukup lumayan, tapi banyak bonus yang dan keuntungan lainnya. Wah menang banyak nih.

Dan akhirnya pun Lilis membeli produk tersebut.


Cerita di atas memberikan gambaran proses bagaimana seorang yang sama sekali tidak tahu tentang sebuah produk, akhirnya menjadi pembeli produk tersebut.

Ada beberapa level yang dilewati oleh Lilis. Level tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.

The Five Levels of Customer Awareness - diannugroho.com
The Five Levels of Customer Awareness

The Five Levels of Customer Awareness

Atau bisa disebut sebagai 5 tingkat kesadaran konsumen.

Dipublikasikan oleh marketer legendaris, Eugene M Schwartz dalam bukunya berjudul “Breakthrough Advertising”.

Kita bahas satu persatu mulai dari Unaware hingga Most Aware dengan menggunakan alur cerita Lilis di atas.

1] Unaware

Ini adalah level orang pada umumnya. Mereka memiliki kegiatannya masing-masing. Tidak menyadari brand kita, tidak sadar akan masalah yang bisa atasi oleh produk kita.

Ini terjadi saat Lilis menunggu giliran di salon sambil scrolling media sosial. Pada saat ini dia belum sadar akan masalahnya. Atau bisa dikatakan bahwa Lilis merasa tidak punya masalah.

2] Problem Aware

Ini adalah level dimana Lilis menemukan artikel yang dibagikan temannya di media sosial.

Dia mulai menyadari bahwa dia punya masalah dalam menjaga berat badan. Selama ini dia tidak tahu cara menjaga agar berat badannya menjadi stabil.

Level Problem Aware adalah level dimana calon konsumen disadarkan akan masalah yang dialaminya.

Untuk dapat membawa seorang unaware ke level ini, diperlukan sebuah konten yang “menyentil” masalahnya.

Untuk dapat membuat konten yang menarik seorang unaware ke problem aware, Anda perlu tahu siapa target market Anda dan apa masalahnya.

Jika Anda sudah punya produk, maka pikirkan apa masalah konsumen yang dapat diselesaikan oleh produk Anda.

3] Solution Aware

Lilis mulai membaca-baca tips-tips dalam artikel tersebut. Dia mulai tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya.

Inilah tahap dimana calon konsumen tahu solusi atas masalahnya. Disini kepercayaan terhadap brand Anda mulai tumbuh.

Calon konsumen mulai percaya Anda atau brand Anda memahami masalahnya dan tahu solusi dari masalahnya.

Untuk membawa calon konsumen ke level ini, buatlah konten yang menjawab kegelisahan mereka. Artinya buatlah konten yang bermanfaat untuk menyelesaikan masalah mereka.

4] Product Aware

Di level ini Lilis sudah percaya dengan konten-konten solusi dari website tersebut dan kemudian mengunjungi halaman penawaran produk, membaca manfaat, fitur-fitur, testimonial dan apa saja yang ditawarkan di halaman tersebut.

Inilah level dimana calon konsumen menyadari adanya produk kita dan mulai mempertimbangkan untuk membeli atau tidak.

5] Most Aware

Lilis sudah melakukan pembelian.

Prospek Anda sudah jadi konsumen di tahap ini. Anda bisa melakukan hardselling di tahap ini. Anda tidak perlu lagi memikirkan cara meningkatkan kesadaran konsumen terhadap kehadiran brand atau produk Anda.

Karena konsumen Anda sudah sangat percaya kepada Anda dan brand Anda.

Ini mungkin level paling mudah dalam melakukan penjualan. Anda tidak perlu membangun kepercayaan konsumen dari awal.

Tantangan di level ini adalah mempertahankan kepercayaan konsumen kepada Anda. Pastikan Anda tetap memberikan pelayanan yang baik kepada mereka.

Memahami 5 levels of customer awareness ini akan membantu Anda dalam membangun customer journey.

Sehingga Anda dapat membuat strategi funneling yang tepat untuk produk dan bisnis Anda.

Mengenali customer awareness adalah mengenal konsumen Anda. Mengenal market Anda.

Ketahui siapa yang menjadi calon pembeli produk Anda.

Jadi siapa calon pembeli produk Anda? Apa masalah mereka? Apa solusi yang bisa Anda berikan kepada mereka?

Berikan komentar Anda di bawah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *